PROVOKASI POLITIK DAN MUNCULNYA HADIS-HADIS PALSU
Oleh: Dr. Wajidi Sayadi, S.Ag, M.Ag

By Admin PPSP 09 Des 2018, 16:37:25 WITA | Dibaca 327 Kali Opini
PROVOKASI POLITIK DAN MUNCULNYA HADIS-HADIS PALSU

Khalifah Ustman bin Affan Dibunuh oleh Pemberontak karena Provokasi Politik dan Berita Hoax (1)

Hari Ahad ini menyampaikan mata kuliah Studi Sunnah pada Program Pascasarjana IAIN Pontianak dengan materi pembahasan yang didiskusikan melalui makalah mahasiswa tentang Urgensi Sanad dalam Studi Hadis. Keberadaan sanad suatu hadis menjadi penentu sahih atau tidaknya suatu hadis. Imam Bukhari seorang periwayat dan mukharrij hadis lahir 184 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW. Lalu bagaimana imam Bukhari bisa meriwayatkan hadis Nabi SAW.? Semuanya karena melalui sistem sanad. Proses pelacakan sebuah hadis untuk mengetahui kualitasnya berawal dari sanadnya. Ketika ada suatu ungkapan yang berbahasa Arab, diklaim sebagai hadis, tapi ternyata tidak ada sanadnya, itu artinya bukan hadis. Jika tetap disebut sebagai hadis, maka itulah namanya hadis palsu, karena tidak ada sanadnya. 

Pertanyaannya, sejak kapan pengetatan sistem sanad mulai diberlakukan dalam kajian hadis? Salah satu jawabannya adalah sejak munculnya masa Fitnah, yaitu masa kekacauan, fitnah, kebohongan, hoax merajalela dan terviralkan, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, caci makian seperti dianggap biasa, antara satu dengan lainnya sesama umat Islam, terutama karena provokasi politik, pada masa akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. 

Khalifah Utsman bin ‘Affan menjabat sebagai khalifah setelah terpilih secara demokratis melalui proses pemilihan yang dihadiri semua fraksi perwakilan semua suku terbesar pada zamannya dan menjabat selama 12 tahun. Oleh karena provokasi politik dan konspirasi politik jahat yang dihembuskan oleh Abdullah bin Saba’ bahwa Utsman bin Affan memerintah secara nepotisme, tidak adil, zhalim karena mengangkat para pejabat dari kalangan keluarga terdekat dan para koleganya. Issu dan provokasi politik inilah yang dihembuskan dan diviralkan kepada masyarakat sehingga masyarakat dengan gampang terpengaruh tanpa berpikir rasional dan jernih, akhirnya mereka demonstrasi. Sebagian penduduk Mesir yang terpengaruh sehingga di mata mereka, pokoknya Utsman bin Affan harus diturunkan, semua kebaikannya tertutupi oleh hawa nafsu kekuasaan dan kekuatan politik oleh para pendemo. Singkat cerita, sekitar 6000 orang, 2000 dari Mesir, 2000 dari Basrah, dan 2000 dari Kufah berdemonstrasi dan memberontak, mengepung kediaman khalifah Utsman bin Affan selama kurang lebih 40 hari (lebih sebulan). Para pemberontak berangkat dari Mesir, Basrah dan Kufah berpura-pura datang ke Mekah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji, tapi tujuan utamanya adalah politik ingin melengserkan dan membunuh khalifah Utsman bin Affan di Madinah. 

Para pendemo dan pemberontak shalat berjamaah di lapangan halaman sekitar kediaman khalifah Ustman ‘Affan. Sementara para sahabat yang mendukung dan mempertahankan kebenaran hanya sekitar 700 orang, sehingga tidak seimbang. Akhirnya Utsman bin ‘Affan wafat dan mati syahid dalam keadaan sedang membaca al-Qur’an, Beliau dibunuh oleh pendemo dan pemberotak hanya karena berdasarkan issu dan provokasi politik jahat dan berita hoax oleh actor dan dalangnya yang bernama Abdullah bin Saba’ keturunan dari Yahudi sengaja menghancurkan umat Islam, melalui jargon-jargon politik. Padahal, Utsman bin ‘Affan adalah khalifah ar-Rasyidin, menantu Rasulullah SAW. dari dua putri Beliau, yaitu Ummi Kaltsum dan Ruqayyah, Penghapal al-Qur’an, Utsman bin ‘Affan adalah pelopor yang sangat berjasa sehingga muncul Mushaf ‘Utsmani, dan banyak lagi jasa-jasa lainnya. Semua kebaikannya ini hilang, tidak dihitung dan tertutupi oleh nafsu amarah para pendemo dan pemberontak, hanya karena provokasi politik. 

Wafatnya khalifah Utsman bin ‘Affan dengan dibunuh oleh pendemo dan pemberontak, masalah umat ini tidak selesai, tapi justru semakin membengkak dan melebar ke permusuhan lainnya. Muncullah dugaan-dugaan baru dan saling menuduh bahwa Ali bin Abi Thalib harus bertanggung jawab dengan terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Khalifah Ali bin Abi thalib diangkat secara aklamasi oleh massa tanpa proses pemilihan sebagai khalifah-khalifah sebelumnya. Akhirnya muncullah pendukung khalifah Utsman terutama oleh Gubernur syiria yaitu Muawiyah dan segenap pendukungnya, pendukung Ali bin Abi Thalib, dan kelompok khawarij, kelompok di luar dari dua kelompok ini. Fitnah dan kekacauan semakin menjadi-jadi, tiada akhir, yang menjadi korban adalah masyarakat biasa umat Islam yang tidak mengerti apa-apa hanya karena “dimainkan” oleh actor-aktor yang punya kepentingan. 

Pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib merekayasa cerita atas nama Nabi Muhammad SAW. seolah-olah nabi Muhammad bersabda tentang dukungan dan kemuliaan Ali bin Thalib dalam berkuasa. Sementara pihak pendukung Muawiyah juga begitu membuat hadis-hadis palsu tentang keutamaan Mua’wiyah. Di sinilah mulai bahasa agama, bahasa dakwah dipakai dan diviralkan tapi tujuan utamanya hanya kekuasaan politik. Provokasi politik menggunakan bahasa agama. Tidak mengherankan ketika tampil di hadapan massa, bukan bahasa dakwah yang santun dan sopan dipakai, tapi orasi politik dengan semangat mempengaruhi orang lain seperti apa yang diinginkan. Inilah masa fitnah, masa kekacauan dan masa ujian yang berat bagi para ahli agama, para tokoh agama harusnya lebih berhati-hati menyikapi.  

Pada masa inilah kemudian, diberlakukan sistem sanad dalam proses periwayatan hadis. Setiap kali ada yang mengaku meriwayatkan hadis, pasti ditanya dan tidak akan diterima hadis itu kecuali ada sanadnya yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Di sinilah muncul pernyataan para ulama, misalnya Muhammad ibn Sîrîn (110 H/728 M) menyatakan: 

إِنَّ هٰذاَ الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ 

Sesungguhnya pengetahuan (sanad hadis) ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa sumbernya kamu mengambil agamamu itu.”

`Abdullâh ibn al-Mubârak (181 H) menyatakan:

اَلإْسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ لَوْلاَ اْلإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَاشَاءَ

"Sanad termasuk agama. Sekiranya tidak ada system sanad, niscaya sembarang orang berkata semaunya." 


Al-Auza`î (157 H/774 M) menyatakan:

مَا ذِهَابُ الْعِلْمِ إِلاَّ ذِهَابُ اْلإِسْنَادِ

"Hilangnya pengetahuan (hadis) tidak akan terjadi kecuali kalau sistem sanad sudah hilang."

Apakah masa fitnah dan kekacauan pada masa awal Islam seperti digambarkan di atas, terjadi saat ini di Indonesia di tengah-tengah hiruk pikuk tahun-tahun politik? Wallahu A’lam.  
(Bersambung pada episode berikutnya ……………..)

Pontianak, 9 Desember 2018.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment