MENGENAL LEBIH DEKAT Al MAGFURLAHU ANNANGGURU ARSYAD MADDAPPUNGAN (Bag. 1)
Oleh : Tim Redaksi

By Admin PPSP 17 Sep 2019, 12:37:25 WITA | Dibaca 698 Kali Pojok Annangguru
MENGENAL LEBIH DEKAT Al MAGFURLAHU ANNANGGURU ARSYAD MADDAPPUNGAN (Bag. 1)

KH. Arsyad Maddappungan yang lebih dikenal dengan panggilan Puang Panrita dilahirkan sekitar tahun 1884 Masehi di Belokka Kecamatan Pancalautan Sidrap. Ia lahir dari pasangan Abdul Fattah dan Kallabbu. Nama Maddappungan sendiri merupakan nama khas bugis yang berarti berkumpul. Strata keluarga Maddappungan di masyarakat termasuk dalam golongan bangsawan dan tokoh masyarakat. Sementara tambahan atau perubahan nama menjadi Arsyad merupakan pemberian nama oleh gurunya Syekh Said Al Yamani ketika belajar di Mekah.

Konon, saat ibundanya sedang mengandungnya, sering sekali ia melihat ada bulan jatuh tepat dalam pangkuannya. Tak lama kemudian lahirlah Puang Panrita. Mungkin ini satu pertanda sebuah keajaiban dan keistimewaan bagi Puang Panrita. Beliau memiliki 2 saudara (kakak) yaitu Manrulu dan Masseuwa. Sebagai keturunan keluarga terhormat, Puang Panrita dididik oleh orang tuanya serta kakaknya Manrulu.

Pada masa masih usia dini sekitar usia 9 atau 10 tahun, ia kemudian dibawa ke Campalagian oleh pamamnya Syekh Abdul Karim yang dikenal dengan Syekh Belokka. Di Campalagian ia ditempa dengan pendidikan agama, baik oleh pamannya sendiri maupun ulama-ulama lokal lainnya di Campalagian. Dalam sebuah keterangan, Puang Panritalah yang banyak melayani keperluan dan perlengkapan ibadah, pendidikan serta dakwah Syekh Belokka Pamannya itu. Semacam asisten pribadi sekaligus menjadi murid kesayangannya.

Seperti disebutkan sebelumnya, Puang Panrita belajar agama selama 2 periode yaitu Campalagian dalam kurun waktu tahun 1903-1906 kepada kakaknya sendiri Manrulu serta pamannya Syekh Abdul Karim Belokka dan ulama-ulama lokal di Campalagian seperti Annangguru Abdul Hamid yang belakangan hari menjadi mertuanya. Tekadnya yang kuat untuk mempelajari ajaran Islam membuat ia memutuskan mengikuti jejak Manrulu memperdalam ajaran Islam di tanah Suci Mekah.

Di Jazirah Arab ia belajar kepada beberapa ulama baik di Mekah maupun Madinah, antara lain Syekh Abd. Rauf di Mekah, Syekh Hadrawi di Mekah, Syekh Muh. Dahlan di Mekah, Syekh Gamma di Mekah, Syekh Abd. Rasyid di Mekah, Syekh Hamdana di Madinah, dan Syekh Said Al Yamani di Mekah (Mufti Syafi’iyah di Mekah).

Nama terakhir yang kami sebutkan di atas yakni Syekh Said Al Yamani yang juga pernah datang di Campalagian. Kali pertama kedatangannya adalah mencari muridnya Puang Panrita dan itu tidak berlangsung lama. Pada saat kedatangan kali kedualah Syekh Said Al Yamani menetap sekitar 10 tahun lebih di Campalagian kurun waktu sekitar tahun 1926-1937 Masehi bersama putera-puterinya. Beliau yang merupakan Mufti Syafi’i di Mekah kala itu dikenal sebagai guru ulama-ulama Nusantara. Tercatat beberapa ulama yang berguru kepadanya. Antara lain: Hasyim Asy’ari (Jombang), Abdullah Faqih (Langitan), Ali Maksum (Rembang), Arsyad al-Banjari (Banjarmasin), Zaini Mun’im (Probolinggo), Anwar Musaddad (Garut), Zainuddin Abd. Majid (Ancor), Muh. As’ad (Sengkang), serta beberapa ulama- ulama besar lainnya lainnya di Nusantara.

Bersambung .....

Referensi :

Disadur dari buku “Jaringan Ulama Mekah-Yaman-Kalimantan-Sulawesi Abad XIX-XXI M” tahun 2019 karya Dr. Wajidi Sayadi, S.Ag, M.Ag dan Jurnal Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar dengan judul “Arsyad Maddapungan A Scholar Generated the Scholars” tahun 2014 oleh Syarifuddin.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment