MEDIA SOSIAL, PANGGUNG USTADZ-USTADZ BARU
Oleh : Muhammad Arif Yunus

By Admin PPSP 04 Agu 2019, 17:58:39 WITA | Dibaca 194 Kali Kutipan Alumni
MEDIA SOSIAL, PANGGUNG USTADZ-USTADZ BARU

Siapa sih yang tidak berbaur dengan media sosial? Satu diantara 10 orang di dunia mungkin tidak mengenalnya lantaran kesenjangan teknologi di beberapa tempat, namun perkembangan yang begitu pesat di bidang teknologi jelas sangat berpengaruh terhadap popularitas jejaring medsos ini.

Hampir segala hal dapat ditemukan di medsos, mulai dari hal-hal sepele hingga hal-hal rumit dari para ahli astrofisika yang menemukan jejak kehidupan di suatu sudut antariksa.

Pengguna media sosial dapat dengan mudah melakukan penyebaran konten-kontennya. Layanan media sosial untuk membagi pengalaman, gagasan, hingga iklan melalui video dengan mudah menjadikannya dapat menggeser kedigdayaan konten tulis pada blog-blog yang dulu sempat menjamur dan juga budaya baca buku.

Konten Konten yang bernuansa agamis (Islami) bertebaran di berbagai media sosial. Kata kunci “sunnah”, saja menghasilkan sekitar satu juta seratus ribu (1.100.000) hasil pencarian. Jumlah yang cukup fantastis walaupun masih jauh di bawah kata kunci “al-Qur’an” (sekitar 4.810.000 hasil) dan “Islam” (sekitar 19.400.000 hasil). Masifnya penyebaran informasi keislaman ini tentunya memiliki andil yang cukup besar dalam pemahaman keagamaan masyarakat utamanya generasi milenial yang hampir-hampir sangat bergantung pada gadget.

Halaqah-halaqah pengajian keislaman yang dulunya tersebar di berbagai tempat kini dapat di akses dimana saja dan kapan saja karena telah bertengger di media sosial apalagi chanel-chanel Youtube.

Dengan demikian, para pendakwah yang dulunya harus sangat memperhatikan kondisi sosio-kultural masyarakat agar dapat dengan mudah diterima, kini mendapat tantangan lebih besar.

Pemanfaatan media sosial khususnya youtube ini menjadikan da’i harus menetapkan satu standar nilai universal dalam setiap ceramahnya agar tidak menimbulkan gejolak pemahaman di masyarakat. Kendati demikian masih banyak pemahaman-pemahaman yang eksklusif dalam beragama sehingga berdampak pada stabilitas masyarakat.

Konten keislaman sangat banyak di media sosial. Pengunggahnya jelas sangat beragam, mulai dari ulama ahli agama yang telah sadar teknologi hingga muslim “bau kencur”.

Konten yang disajikan tentu berbeda karena tingkat pemahaman keagamaan seseorang sangat mempengaruhi terhadap tindakan yang dia lakukan di media sosial.

Dalam konten yang berisikan keislaman (hadis dan sunnah) saja pengguna diberi banyak pilihan mulai dari konten yang sifatnya informatif dari para pengguna yang taqlid pendapat ulama-ulama tertentu hingga konten salah seorang pemuka Agama yang sedang menanamkan ideologi keagamaannya secara sadar kepada pendengar offline maupun onlinenya.

Kajian keislaman (hadis dan sunnah) di media sosial menjadi penting untuk dicermati atau diteliti karena banyak pengguna yang menikmati kajian-kajian keislaman (hadis dan sunnah) di media sosial sebagai cara dia mempelajari agama.

Kegagalpahaman seorang ustadz atau yang mengaku dirinya ustadz terhadap suatu keislaman (hadis) yang di unggah di media sosial tentunya berdampak sangat signifikan bila dikonsumsi oleh masyarakat muslim yang notabene generasi milenial pencari informasi keberagamaan.

Tipologi Kajian Keislaman di Media Sosial

Pada bagian ini penulis hendak membahas keberagaman kajian keislaman di meiad sosial. Kajian hadis yang sangat banyak di meiad sosial tentunya memiliki alur-alur yang berbeda.

Tinjauan terhadap keislaman secara lebih spesifik tentunya memberikan pandangan tentang bagaimana kajian yang lebih baik dilakukan.

Selanjutnya aspek penting dalam sosiologi media dalam kajian ini ialah bagaimana kajian keislaman beriteraksi dengan pengguna media sosial.

Kajian keislaman di media sosial dilakukan oleh banyak tokoh, ustadz dan yang mengaku dirinya ustadz. Dalam media sosial Indonesia, dari hasil pengamtan penulis, kajian ini memunculkan banyak sekali nama penceramah dari berbagai latar belakang.

Kata sunnah sendiri ditemukan sejumlah 1.100.000 hasil. Adapun kata hadis ditemukan 680.000 hasil (dengan kata kunci hadits sejumlah 182.000 hasil dan hadist sejumlah 113.000 hasil).

Dari sudut pandang motode penyampaian kajian keislaman di media sosial, penulis mengkatogorikan menjadi tiga kategori.

Pertama, metode tematis, Kajian keislaman di media sosial secara tematis dapat dicari dengan mudah pada kolom pencarian dengan menggunakan kata kunci tema yang diinginkan.

Sebagai contoh penulis melakukan pencarian menggunakan kata kunci “akhlak” muncul sekitar 146 ribu hasil. kedua, metode dialog pertanyaan, metode ini terjadi dialog antara penceramah dan pendengar dengan menggunakan kertas untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang ditulis pada kertas tersebut cenderung singkat.

ketiga, berpanduan (menggunakan satu kitab), metode ini menggunakan kitab-kitab keislaman sebagai basis kajiannya. Kajian ini tentu medasarkan pada teks yang akan dikaji.

Munculnya Ustadz-ustadz baru di Media Sosial

Setidaknya persoalan menganai kajian-kajian keislaman dimedia sosial sudah kita bahas pada pembahasan diatas, bagaimana coraknya, bagaiman sistem penyebarannya dan tipologinya, akan tetapi pada pembahasan kali ini kita sedikit menyinggung persoalan fenomena-fenomena ustadz baru yang sedang berkeliaran di media sosial. Pada pembahasan ini penulis memohon maaf, tidak bermaksud menyinggung siapapun.

Fenomena tentang munculnya ustadz-ustadz dadakan dimedia sosial kadang membuat kita risih bukan saja dari style-nya yang keArab-araban akan tetapi isi ceramah yang dibawakan jauh dari esensi yang sebenarnya.

Kita perlu berhati-hati dengan klaim “ustadz” apalagi “kiyai” baik dari orang lain ataupun orang yang sengaja menisbatkan dirinya ustadz atau kiyai, padahal mereka bukan ustadz dan kiyai yang mumpuni dan kokoh keilmuannya dibidang Agama terutama kitab-kitab kuning. Bahkan ada “Ustadz Karbitan ” yang baru mengenal Islam hanya dari “pesantren kilat”.

Bangi penulis persoalan “ustadz” itu tidak hanya pada persoalan style of life (gaya hidup), ustadz itu tidak hanya dilihat dari seberapa sering dia memakai jubah, sebarapa panjang jenggotnya, berapa banyak sorban yang dia pakai, seberapa sering mereka meninggalkan sanak keluarganya untuk khuruj akan tetapi persoalan ustadz itu dilihat dari segi keilmuannya, kewaraannya, dan akhlakinya.

Dahulu bahkan sekarang banyak Ulama-ulama Nusantara yang sangat simpel dalam menjalani kehidupan tanpa jubah yang panjang, jenggot yang panjang dan sorban yang tebal lagi panjang, tetapi dari segi keilmuan Agamanya sangat dalam (penguasaan terhadap kitab-kitab kuning), dan mereka tidak pernah membeberkan diri kepada khalayak umum untuk dipanggil ustadz atau kiyai.

Persoalan jubah yang panjang, jenggot yang panjang dan sorban yang tebal itu, bukan bererti penulis anti terhadap atribut tersebut, akan tetapi kerisihan penulis diakibatkan karena fenomena jubah, jenggot dan sorban kadang kala digunakan sebagai simbol kesucian, menganggap orang yang tidak memakai jubah, memanjangkan jenggot, khuruj dan sorban yang panjang itu tidak saleh apalagi kalau sampai mengatakan belum sempurnah keimanan kalau tidak melakukan hal tersebut.

Pada persoalan ini penulis mengingat salah satau pesan AG. KH. Muhammad Zein (puakkali buta) yang penulis dengar dari ayahanda penulis sendiri (Muh. Yunus merupakan salah satu murid Puakkali Buta), beliau (puakkali buta) mengatakan “mua’ mateka ti unusu (yunus), meegani tu kalaki rapang muita panrtita tapi a’dengka paddissenganna (kalau saya sudah meninggal yunus… maka banyak orang yang kamu liat sperti Ulama akan tetapi tidak mempunyai keilmuan).

Persoalan menafsirkan perkataan beliau ini (puakkali buta) penulis tidak mempuni, dan semoga kita bisa mengambil barokahnya. (penulis cukup mengirimkan surah al-Fatihah kepada beliau Puakkali Buta, semoga barokah keilmuannya sampai kepada kita… amiin).

Fenomena ustadz baru yang mencari panggung dimedia sosial bisa dilihat dalam beberapa kriteria berikut:

Pertama, materi dakwahnya kadang hanya bermodalkan copy paste, yang mana isinya kurang mendidik dikarenakan lebih memperkeruh suasana atau membuat ajaran Islam yang mulia terkihat kurang hikmah dan bijaksana.

Kedua, kalau ada pertanyaan segera mereka mencari dan bertanya di “Annangguru google” padahal belum tentu yang ada di google itu benar semuah, dan berbicara masalah agama perlu ilmu “ta’shil/dasar”tidak cukup hanya bermodalkan pesantren kilat saja, ilmu dasar juga perlu waktu yang cukup lama sehingga tidak gegabah dalam berfatwa.

Ketiga, mengaku ustadz, tetapi adab dan akhlaknya jauh dari akhlah dan adab islami.

Keempat, berkomentar mengenai fenomena yang terjadi tetapi bukan untuk menyejukkan, menenangkan apalagi mencerahkan.

Kelima, suka mengkritik bahkan menyalhkan Ulama yang lebih senior

Keriteria-kriteria yang menilis sampaikan ini sering kita jumpai di media sosial oleh karena itu, semestinya kita yang tidak bisa lepas dari media sosial, ketika melihat/mendapati informasi diharapkan dikaji lebih dalam, bukankan hal demikian itu merupakan preoritas utama kita dalam menghadapi era globalisasi yang semakin meningkat, kalau bahas Gus Nadir ialah “Saring Sebelum Sharing”. Wallahu a‘lam.

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Jurusan Studi al-Qur'an dan al-Hadis Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Parappe




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment