Himah Lembah Biru Pondok Pesantren Salafiyah Parappe
Oleh : Muhammad Arif Yunus

By Admin PPSP 11 Okt 2019, 06:47:00 WITA | Dibaca 565 Kali Kutipan Alumni
Himah Lembah Biru Pondok Pesantren Salafiyah Parappe

Malam itu Tapak di tugaskan jaga malam alias bulis di Pondok, tepatnya malam jum’at. Persoalan jaga menjaga atau keamanan pasti dibawah kendali Ust. Marfu, pasti semunya pada ingatkan siapa sesosok beliau itu, seperti yang sempat kita bicarakan kemaren, bahwa beliau orangnya sangat tegas, tentunya Tapak sangat mengagumi ketegasan beliu.

Persoalan jaga malam di Pondok, biasanya santri ditugaskan sebanyak enam orang dan dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama mulai habis kegiatan pembelajaran sekira-kira jam 22.00 dan kelompok ke dua mulai jam 1 malam sampai sehabis sholat subuh.

Malam itu Tapak di posisikan sebagai penjaga malam golongan kedua, tetapi Tapak memilih ikut Nimbrung mulai jam 22.00 sampai habis sholat subuh. karena teman bulis Tapak pada malam itu semunya komplit dalam artian kekomplitannya itu ialah ada yang orangnya lucu-lucu menjengkelkan, ada yang begitu sangat tawadhu, ada yang sabarnya tingkat dewa, ada yang isengnya tinggkat dusun, ada yang kampungannya Tingkat Nasional, dan ada yang jailnya tingkat provinsi, kalau Tapak sendiri kegantengannya tingkat Lorong, kekomplitan yang jaga malam itu membuat sesuatu sangat berbeda.

Teman Tapak yang lucu-lucu menjengkelkan itu, sebut saja namanya Konex, Sejatinya konex itu bukan nama aslinya tetapi tingkahnya yaaa itu… lucu-lucu menjengkelkan, akhirnya di beri nama Konex, tapi konon katanya pemberian nama Kone itu dari Istri Pimpinan Pondok, Kone itu merupakan bahasa masyarakat setempat yang artinya “tidak bisa besar” entah besar dari segi fisik atau besar dari segi apa, nantilah Tapak tanyakan lansung sama beliu.  Penambahan kata X dibelakannya itu ya.. dari yang punya nama sendiri biar kelihatan kreeen katanya, maklum anak santri itu kekereatifannya tidak ada yang menandingi.

Malam itu sesuai prediksi Tapak bahwa akan terjadi dialog yang sangat berkepanjangan yang tak ada ujungnya, malam itu tiba-tiba menjadi berubah yang tadinya hanya suara jangkrik dan suara air yang mengalir dari sumur boor ketempat bak penampungan air, kini menjadi sangat ramai layaknya pasar Campalagian. Saking seriusnya Tapak bersama teman membincangkan sesuatu yang tidak perlu diperbinjangkan tersebut, kami tak menghiraukan kabut asap rak telur yang dibakar sebagai pengganti obat nyamuk baigon.

Malam semakain larut, dan tepat jam membangunkan pun telah tiba, kini pembagian tugas membangunkan sudah terlaksana dan sebagai santri yang taat aturan tak menghiraukan rasa ngantuk demi menjalankan tugas pondok, meski mata kami semuanya merah, bukan merah karena menahan rasa ngantuk tapi merah diakibatkan menahan perihnya asap rak telur yang dijadikan sebagai obat nyamuk tadi.

Setelah selesai salat subuh Tapak tak lansung membaringkan diri untuk istrahat, Tapak hanya diam sambil menikmati segelas kopi, lalu termenung di depan teras asrama C. dilepaskannya pandangan ke langit yang perlahan berganti warna, mengagumi lembah biru.

Lembah biru adalah kesetiaan sang alam menyambut terang. Lembah biru adalah butiran embun pagi yang segar berkilauan, intan dunia, permata alam raya, berlian semesta yang setia menghiasi kehidupan umat manusia. Lembah biru adalah semilir angin yang menghaturkan kesejukan menyambut pagi, yang membukakkan tangannya menunggu pelukan kerja keras.

Lembah biru adalah adalah kicauan burung di halaman pondok menyanyikan senandung kedamaian, memainkan melodi persahabatan santri, penuh kehangatan.

Lembah biru adalah lambang ketegaran tempat siang yang brutal akan dihadapai. Lembah biru adalah semangat jagat raya yang meneteskan harapan dan cita-cita santri, tempat matahari siap untuk menghangati santri/I pondok.

Lembah biru adalah persimpangan hitam dan putih, perantara terang dan gelap, menyambung malam dan siang, penyempurna umur dan doa, santri memasuki pagi atas fitrah Islam yang dikajinya, kata-kata ikhlas dari ketundukan Agama Nabiku Muhammad sallallahu alaihi wasallam merupakan pegangan erat bagai santri Salafiyah Parappe.

Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon kepadamu untuk membangkitkan kami hari ini kepada seluruh kebaikan, kami berlindung kepadamu dari keburukan atau melakukan keburukan kepada orang-orang yang pasrah kepadamu, ya Allah panjangkanlah Umur seluruh guru-guruku yang berada di Pondok Pesantren Salafiah Parappe terutama Pimpinan Pondok Kami dan seluruh keluarganya, semoga dengan umur yang panjang engkau berikan, guru-guruku yang dengan sabar dan telaten membina santri dapat terus menebar mutiara-mutiara hikmah darimu.

Tapak teringat salah guru tapak yang akrab di sapa Ust Joy, suatu amalan yang sangat bermanfaat diberikan oleh beliau, diwaktu tapak ikut kursus Haid yang dipimpin oleh beliau sendiri, dia perpesan bahwa; “Tapak sungguh keistimewaan dari surah al-Fatihah itu sangat besar, maknya jadikan surah al-Fatihah itu sebagai penyambung diri kamu dengan guru-gurumu, setelah shalat fardu sisipkan waktu untuk mengirimkan surah al-Fatihah kepada seluruh guru-gurumu, yakini keberkahan surah al-Fatihah itu dapat mengantarknmu untuk selalu terhubung dengan guru-gurumu, karena sejatinya ketika sesorang itu selalu terhubung kepada gurunya maka insya Allah keberkahan ilmu akan berjalan terus. Bersambung

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Jurusan Studi al-Qur'an dan al-Hadis Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Parappe 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment