APRESIASI TERHADAP ACARA BEDAH BUKU JARINGAN ULAMA DI MASJID RAYA CAMPALAGIAN
Oleh : Tim Redaksi

By Admin PPSP 13 Sep 2019, 22:52:54 WITA | Dibaca 905 Kali Pojok Annangguru
APRESIASI TERHADAP ACARA BEDAH BUKU JARINGAN ULAMA DI MASJID RAYA CAMPALAGIAN

Tidak mudah menulis sebuah sejarah ulama di masa lampau yang telah berjarak waktu dan generasi. Bukan hanya karena masa itu telah lampau, namun tradisi kita untuk mendokumentasikan catatan-catatan sejarah itu adalah sesuatu yang masih jauh dari kata ideal. Lebih lagi, tradisi menulis kita yang masih sangat minim. Terlalu sering kita mengandalkan cerita dari mulut ke mulut. Konsekuensinya, satu scane cerita bisa beribu versinya.

Dalam Kitab Risalah Al-Muawanah, Al-Imam Arif billah Al-Qutub Al-Da'wa Al-Habib Abdullah bin Alawiy bin Muhammad Al-Haddad Al-Hadramiy Al-Syafi'iy menulis kalimat penting sbb :


والتصانيف تبلغ الأماكن البعيدة وتبقى بعد موت العالم فيحصل له بذلك فضل نشر العلم ويكتب معلماً داعياً إلى الله في قبره

Artinya : “Karya tulis dapat mencapai tempat-tempat yang jauh dan manfaatnya dapat selalu dirasakan walaupun si penulis sudah wafat. Maka dengan karya tulisnya itu, ia memperoleh keutamaan sebagai seorang penyebar ilmu, dan akan dicatat di dalam kuburnya sebagai muallim yang menyeru ke jalan Allah Swt.”


Dr. Wajidi Sayadi, S.Ag, M.Ag yang juga merupakan murid dari Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Parappe (PPSP) dalam pengamatan dan interaksi langsung maupun tak langsung Tim Redaksi selama ini dengan beliau memang sepertinya  sudah sejak lama menyimpan serpihan-serpihan catatan sejarah ulama Campalagian. Hal ini bisa kita lihat langsung dalam banyak postingannya di sosial media yang Al-hamdulillah hari ini beliau telah rangkum dengan apik dan sistimatis menjadi sebuah buku yang akan dibedah pada hari Ahad tanggal 15 September 2019 di Masjid Raya Campalagian bertajuk “JARINGAN ULAMA MEKAH-YAMAN-KALIMANTAN-SULAWESI DI MASJID RAYA CAMPALAGIAN”.

Tulisan sejarah ataupun biogarafi apapun namanya diakui bahwa kita tidak mungkin mendapatkan gambaran utuh dan detail hikayat tokoh-tokoh yang menjadi obyek tulisan. Sulit bagi kita untuk mendapatkan gambaran pergulatan batin yang mengaduk-aduk perasaan kita layaknya membaca Romeo dan Juliet atau seperti kisah Habibie dan ‘ainun. Namun paling tidak sebuah tulisan seperti ini akan menjadikan pembacanya mendapatkan percikan permenungan, berdasarkan dokumen dan cerita kesaksian yang terbatas. Karena keterbatasan itu pula, catatan-catatan dalam buku tersebut tentu tidak akan mampu menyuguhkan informasi lengkap mengenai perjalanan hidup tokoh-tokoh itu. Namun satu hal yang pasti, ini adalah awal yang sangat baik untuk generasi hari ini yang telah dinanti sejak lama oleh banyak fihak utamanya kaum santri sebagai cermin agar masa depan bisa mengaca dan belajar dari sejarah. Agar masa depan bisa mewarisi jejak kebaikan dan menapaki nilai sekaligus menjadi sebuah provokasi awal untuk menghasilkan inisiatif-inisiatif selanjutnya.

Hemat kami setelah membaca buku itu memang belumlah memuat cerita lengkap dan komprehensif tentang riwayat hidup para ulama kita di masa lampau itu. Meski demikian, sketsa kecil dalam buku tersebut telah menggambarkan sebuah dokumentasi ketokohan, pergulatan keilmuan, gambaran kondisi sosial-politik, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para ulama tersebut. Sketsa ini semoga bisa memadai untuk menjadi jembatan awal antara generasi kita kini, dengan generasi masa lampau di mana mereka ulama kita itu telah bergulat dengan keilmuan dan segala perkara yang melingkupinya.

Ada baiknya sketsa dalam buku itu diperlakukan sebagai dokumen stimulan, provokasi awal terhadap tradisi penulisan sejarah para ulama dan auliya’ di Campalagian secara khusus dan di tanah Polewali Mandar ini bahkan Sulawesi Barat secara umum yang dalam sejarahnya Islam berdiri sampai hari ini kita nikmati tiada luput dari pahit getir dan kisah heroik perjuangan mereka dahulu berjuang menegakkan kalimat Allah Swt.

Sejarah memang terkait dengan siapa yang mencipta sejarah. Lebih khusus, sejarah akan dimenangkan oleh para penulis sejarah. Tradisi menulis adalah tradisi merawat dan mengabadikan sejarah dan segala nilai di dalamnya.

Selamat dan sukses acara bedah bukuta’ Annangguru Wajidi...

Editor : Subhan Hawaya




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment