HIJRAH EKSISTENSI VS HIJRAH ESENSI DI ERA MILENIAL
Oleh : Muhammad Arif Yunus

By Admin PPSP 01 Apr 2019, 21:29:30 WITA | Dibaca 355 Kali Kutipan Alumni
HIJRAH EKSISTENSI VS HIJRAH ESENSI  DI ERA MILENIAL

Tulisan ini berawal dari keresahan penulis melihat fenomena hijrah dikalangan manusia-manusia milenial, mereka yang telah menganggap dirinya hijrah tidak mengetahui esensi konsep hijrah itu sendiri.

Dalam tulisan ini penulis petakan menjadi tiga poin utama. pertama, defenisi hijrah, kedua, problematika hijrah kontemporer,dan ketiga esensi hijrah dimasa Nabi. Tiga poun utama dalam tulisan ini, penulis yakini akan membenarkan pengkajian yang cermat dalam mencoba mengenalisis kesalakaprahan tentang konsep hijrah di era milenila.

Defenisi Hijrah

Hijrah terambil dari akar kata dengan huruf-huruf ha, jim, ra yang berarti: memutuskan atau berpaling, misalnya, seseorang meninggalkan kampung halamannya; berpindah (tempat, keadaan, sifat).

Hijrah memiliki dua makna dasar, pertama, berarti memotong/memutuskan dan kedua, mengikat sesuatu. Kata tersebut berasal dari bahasa Arab yakni Hajara, Yahjuru, Hajran yang berarti memutuskan hubungan.

Kalimat hijrah di alam al-Qur’an terdapat 28 kata dengan berbagai derivasinya yang terdapat di berbagai surat, baik pada surat dan ayat-ayat Makkiyah maupun pada surat dan ayat-ayat Madaniyah dengan maksud dan konteks yang berbeda-beda.

Menurut al-Asfahani, hijrah berarti berpisahnya manusia dari sesuatu serta meninggalkannya. Muhammad bin ‘Allan As-Shiddiqi, dalam kitab Dalilul Falihin li Thuruqi Riyadhis Shalihin, mendefenisikan kata hijrah berdasarkan makna syar’i ialah perpindahan dari negeri orang-orang zalim ke negeri orang-orang adil dengan maksud untuk menyelamatkan agama.

Berbeda dengan apa yang di defenisikan oleh Al-Hafizh Abdurrauf Al-Munawi (pakar hadits asal Mesir), dalam kitab Taisir bi Syarhil Jami’is Shaghir bahwa hijrah pada hakikatnya adalah tarkul manhiyyat, meninggalkan berbagai larangan agama. Karenanya, hijrah sejatinya tidak terbatas pada perpindahan yang bersifat lahiriah, namun juga mencakup perpindahan atau perubahan yang bersifat batiniah.

Problematika Hijrah Kontemporer

Istilah hijrah sebagaimana yang telah dibahas merupakan terma yang berkembang dalam Islam yang disandarkan pada peristiwa hijrah-nya (pindah) Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dalam hal ini, hijrah tidak hanya dimaknai berpindah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain. Singkatnya hijrah menandai momentum perpindahan dan perubahan dalam diri seseorang dari keburukan menuju kebaikan.

Akan tetapi ada yang khas dengan pemaknaan hijrah dalam konteks fenomena hijrah yang berkembang di kalangan pemuda dan pemudi muslim saat ini. Yakni penekanan makna hijrah pada aspek eksitensialnya, bukan pada aspek substansialnya.

Bagi kaum perempuan hijrah akan senantiasa dikaitkan dengan perubahan cara berbusana yang lebih islami. Tata cara berbusana yang islami merujuk kepada cara berpakaian seorang muslim atau muslimah yang menutup aurat. Oleh karena itu wacana hijrah bagi perempuan tidak bisa dilepaskan dari seputar penggunaan jilbab, cadar dan busana-busana muslimah lainnya.

Tidak jauh berbeda dengan kaum perempuan, busana juga menjadi perhatian bagi kaum laki-laki. Biasanya fokus perhatiannya pada celana yang digunakan. Dalam menggunakan celana laki-laki dilarang untuk isybal (celana yang panjangnya melebihi mata kaki) karena merupakan wujud dari kesombongan. Selain itu kaum laki-laki juga dianjurkan untuk memanjangkan jenggot dan mencukur kumis sebagai perwujudan dari sunnah rasul.

Perubahan berikutnya yang juga tidak bisa dilepaskan dari wacana seputar hijrah adalah penggunaan istilah-istilah kata yang diambil dari bahasa arab. Beberapa kata yang sering digunakan adalah “ukhti” untuk menyebut saudara laki-laki, “ana” untuk menyebut aku/saya, “anta/antum” untuk menyebut kamu/kalian “na’am/la” untuk menyatakan iya/tidak dan beberapa istilah tambahan lain seperti fillah dalam kata ukhti fillah dan akhi fillah. Fenomena ini berkembang dikalangan pemuda dan pemudi perkotaan maupun pedesaan  yang mengaku sedang berhijrah.

Terlepas dari segala macam pembelaan yang menyatakan bahwa fakta-fakta di atas merupakan tahapan awal dalam berhijrah, tetap saja hal itu menunjukkan adanya bentuk narsisme atau keinginan untuk diakui. Dalam hal ini telah terjadi pergeseran nilai dalam menjalankan ritus keagamaan dari semua bernilai etis-ideologis menjadi estetis-eksistensialis.

Disadari atau tidak terlalu fokus pada penekanan makna hijrah pada aspek eksistensial memiliki dampak negatif terhadap relasi sosial. Faktanya, kebanyakan orang yang berhijrah, mengalami keretakan hubungan sosial dengan teman atau kawan lamanya yang belum berhijrah. Hal ini dikarenakan konstruksi berfikir hijrah yang menekankan pada aspek eksistensial sebagaimana yang dijelaskan di atas, serta cenderung membuat dikotomi antara “aku yang sudah berhijrah” dan “mereka yang belum berhijrah”.

Terlebih jika ini didasarkan pada konsepsi negatif terhadap orang-orang yang tidak memakai atribut yang sama dengan dirinya, tidak memanjangkan jenggot dan mencukur kumis sebagaimana yang ia lakukan.

Oleh karena itu makna hijrah harus dikembalikan pada asalnya. Bahwa hijrah bukan hanya terbatas pada aspek eksistensi saja. Tetapi hijrah harus mampu menembus batas-batas fisik, karena sejatinya hijrah bukan hanya persoalan sudah bercadar atau tidak, hijrah bukan persoalan seberapa besar kerudungmu, seberapa cingkrang celanamu, juga bukan seberapa panjang jenggotmu. Hijrah itu tentang bagaimana kita memperbaiki hubungan kita kepada Allah, kepada manusia dan kepada alam sekitar.

Esensi Hijrah Dimasa Nabi

Perintah berpindah tempat pada zaman dahulu bersifat wajib, sebab Nabi Muhammad SAW dan para sahabat terus menghadapi berbagai tekanan, ancaman bahkan kekerasan selama di Makkah. Keselamatan jiwa dan keimanan mereka terancam ketika itu.

Hijrah dalam konteks kejadian tersebut dipandang sebagai proses migrasi untuk mencari suaka demi mencari perlindungan dan mengembangkan kehidupan baru di tempat yang lebih aman. Mereka juga lebih memungkinan membangun kehidupan dan masa depan perjuangan. Menurut penulis “Dalam konteks negara Indonesia yang secara sosial dan politik lebih aman, hijrah secara fisik tidak wajib dilakukan,” Lantaran tidak ada tekanan yang mengancam jiwa dan keimanan seperti yang terjadi pada masa Rasulullah. Di negara ini, masyarakat Muslim masih dapat menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing.

“Maka hijrah seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu meninggalkan kampung halaman ke tempat lain sudah tidak sesuai dengan kenyataan dan dengan apa yang dikehendaki oleh masyarakat Islam itu sendiri,”

Lebih, hijrah secara fisik tetap menjadi wajib dengan beberapa persyaratan. Pertama, Muslim terancam keselamatan jiwanya. Dalam hal ini, hijrah merupakan upaya untuk menyelamatkan diri. Kedua, dia tidak memiliki harapan hidup lebih baik di tempat ia berada. Ini bisa disebabkan oleh faktor ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya.

Ketiga, ia yakin akan menjadi lebih baik di tempat yang baru. Dalam konteks ini, perpindahan dilakukan secara sadar, bukan sebagai upaya untuk melarikan atau mengasingkan diri. Ini harus dipikirkan sebaik-baiknya dengan bekal yang cukup untuk bisa bertahan hidup dan berkembang di tempat yang baru.

Pada masa Rasulullah SAW, hal ini dicontohkan selama bertahun-tahun. Sebelum proses hijrah, Nabi Muhammad SAW membicarakan hal ini dengan para sahabat. Ia juga melakukan berbagai pertemuan dengan para pimpinan di kota Madinah.

Persyaratan keempat, yaitu proses hijrah harus diawali dengan niat yang baik, bukan untuk melakukan maksiat.  Apabila unsur-unsur di atas tidak terpenuhi, seorang Muslim lebih diutamakan untuk tinggal di tempat ia bermukim.

Dengan begitu, ia dapat membangun daerah tempat ia dilahirkan dan berusaha memajukan wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya membangun hubungan baik dengan sesama manusia (hablumminannas).

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Jurusan Studi al-Qur'an dan al-Hadis Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Parappe

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment