BAB VIII HARAPAN
Oleh : Dr. Wajidi Sayadi, S.Ag, M.Ag

By Admin PPSP 06 Mar 2019, 08:14:55 WITA | Dibaca 84 Kali Kutipan Alumni
BAB VIII HARAPAN

Ketahuilah, bahwa harapan itu adalah ar-Raja’, menggantungkan hati dengan harapan dapat kekal. Barangsiapa panjang harapannya, ia akan sibuk untuk meraih keberhasilannya dan lupa akan kematian, seperti orang yang telah meyakini bahwa ia akan kekal hingga sampai di tempat yang paling jauh atau hingga ajal menjemputnya. 

Nabi SAW. bersabda: 

يشيب ابن آدم و يشب فيه خصلتان الحرص و طول الأمل

“Anak cucu Adam hingga beruban masih  terhias dalam dirinya dua hal, yakni tamak dan panjang harapan”.

Hadis ini dikemukakan oleh al-‘Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’ dengan susunan redaksi: “Anak cucu Adam hingga usia tua tetap saja … Katanya, hadis tersebut diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersumber dari Anas secara marfu’. Demikian juga Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah bersumber dari Anas menggunakan redaksi “sudah tua”. Lihat hadis tersebut dalam Kasyf al-Khafa’ Juz II h. 396 pada hadis no. 3254, (Muhaqqiq). 

Dalam hadis lain, Nabi SAW. bersabda: 

إن أخوف ما أخاف على أمتي الهوى و طول الأمل

“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan atas umatku adalah mengumbar hawa nafsu dan panjang harapan.” 
Mengumbar hawa nafsu akan menutupi kebenaran dan panjang harapan akan melupakan akhirat.

Hadis ini dikemukakan oleh as-Suyuthi dalam Jâmi’ al-Ahâdits Juz II h. 710 pada hadis no. 7321 dan ia berkata bahwa hadis ini diriwayatkan Hakim dalam Tarikh-nya dan Dailami dalam Musnadnya bersumber dari Jabir, (Muhaqqiq).

Di samping itu, ada juga sabda Nabi: 

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت  والعاجز من اتبع وتمنى على الله تعالى الأماني

“Seorang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan nfsunya dan melakukan suatu amal sebagai persiapan untuk akhirat. Dan seorang bodoh adalah orang yang mengumbar hawa nafsunya dan senantiasa berangan-angan atas nama Allah. 

Hadis ini diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, ‘Askari, Qudha’i, dan Tirmidzi. Menurut Tirmidzi hadis ini kualitasnya hasan bersumber dari Syidad ibn Aus secara marfu’. Menurut Hakim hadis ini kualitasnya sahih sesuai kriteria Bukhari. Dan ini diikuti oleh adz-Dzahabi, sebab dalam rangkaian sanadnya terdapat seorang bernama Ibn Umm Maryam, (Muhaqqiq).

Ketahuilah, bahwa mengurangi harapan termasuk tanda kebahagiaan yang paling besar, karena ia akan membersihkan hati dari segala sesuatu yang membuat lupa terhadap kematian yang bisa saja datang secara mendadak. Dan selanjutnya ia akan selalu mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat. 

(Wajidi Sayadi, Pontianak, 21 Februari 2019)




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment